Minggu, 06 Oktober 2013

Perubahan dan Inovasi


PERUBAHAN DAN INOVASI


1.    Perubahan
Dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan, terjadi berbagai perubahan dalam hampir semua aspek, misalnya dalam aspek ekonomi, politik, sosial budaya, teknologi, hukum, hankam, dan aspek lainnya. Implikasi perubahan-perubahan tersebut adalah adanya perubahan peluang dan/atau ancaman pasar. Perubahan di pasar terjadi amat cepat dan bisnis harus menanggapinya secara cepat, jika mereka ingin tetap bertahan. Perubahan juga terjadi di bidang manufaktur, sehingga berbagai tren baru dalam lingkungan manufaktur membawa dampak terhadap kualitas (Tabel 1).

Tabel 1. Lingkungan Manufaktur Baru

No.
Tren
Implikasi terhadap Mutu
1.
Fokus pada strategi manufaktur
Mutu menjadi dasar strategi kekuatan bersaing
2.
Produksi barang bermutu tinggi
Mutu secara langsung berhubungan dengan pangsa pasar, pertumbuhan bisnis dan laba
3.
Pengurangan tingkat persediaan dengan konsep just in time
Pengurangan biaya persediaan
4.
Skedul produksi yang ketat
Peningkatan ketersediaan oleh pelanggan dipersepsikan sebagai aspek mutu
5.
Bauran dan variasi produk
Memungkinkan fokus pada strategi dan segmentasi pasar
6.
Otomatisasi mesin & peralatan
Memberikan justifikasi bagi peningkatan mutu dan produktivitas
7.
Daur hidup lebih singkat
Memberikan peluang bagi usaha mempercepat perubahan pasar dan memasukkan teknologi baru ke dalam produk melalui program manajemen mutu
8.
Perubahan organisasi
Tanggung jawab mutu didelegasikan kepada unit bisnis strategik dan manajer produk
9.
Teknologi informasi
Memungkinkan pengendalian lebih ketat terhadap biaya mutu, manajemen mutu dan integrasi fungsional silang.
                                                                                                            
Kelangsungan hidup perusahaan sangat tergantung pada kemampuan untuk memberi respons terhadap perubahan-perubahan tersebut secara efektif. Umumnya perubahan yang terjadi disebabkan oleh berbagai kekuatan yang ada, baik internal maupun eksternal. Dinosaurus musnah sebab mereka tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan. Program pemerintah, kebijakan perusahaan, partai politik atau kegiatan lainnya yang sudah didesain dengan baik akhirnya gagal karena ketidakmampuannya untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lokal/yang berubah. Oleh karena itu, konsekuensi adanya perubahan tersebut kita memerlukan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

            Dikaitkan dengan membangun wirausaha, maka model pengelolaan  perubahan di atas harus difokuskan pada individu atau kelembagaan. Kepada semua pihak yang terkait harus ditumbuhkan dan dikembangkan suatu kesadaran kognitif tentang posisi dan peran yang diemban. Paling tidak mereka harus sadar dan berubah dari kondisi yang selama ini tergantung pada struktur (dependent) menjadi pelaku yang mandiri (independent), dan selanjutnya dikembangkan ke arah sebuah sinergi ketergantungan (interdedependent) antar semua pihak. Tentu saja saling ketergantungan ini berada dalam suasana ”belajar” satu sama lain, tidak satupun yang lebih hebat dari yang lain.

            Stephen R. Covey dalam bukunya ”Seven Habits of Highly Effektive People” (1987) memberikan kiat bagaimana sebaiknya cara-cara berubah dari orang-orang yang sangat tergantung menjadi orang mandiri, dan berikutnya menjadi sebuah kerjasama tim yang sinergis. Intinya adalah membangun kebiasaan-kebiasaan yang positif di tingkat personil yang terlibat.

            Kebiasaan-kebiasaan tersebut meliputi :
a.    Perubahan dari Ketergantungan Menjadi Kemandirian
 Kebiasaan 1 :
Jadilah orang yang proaktif !
Orang proaktif tidak mau menunggu. Orang yang proaktif selalu sempat berpikir secara bebas dan kreatif sebelum memberikan respon atas rangsangan yang muncul. Kebiasaan ini bisa berbentuk ”misi” (tujuan).
 Kebiasaan 2 :
Tentukan secara tegas apa tujuan kita di akhir setiap kegiatan nanti !
Dengan dipahaminya tujuan akhir setiap kegiatan, kita dan pihak-pihak lain yang bekerja dengan kita akan senantiasa dapat mengendalikan dan mengontrol arah dan proses yang sedang berjalan serta tidak perlu khawatir terhadap terobosan atau modifikasi di tengah jalan. Kebiasaan dapat disetarakan dengan ”visi” (impian yang hampir mustahil). Orang yang punya visi tidak takut salah arah dan/atau kesasar.
 Kebiasaan 3 :
Dahulukan hal-hal yang memang seharusnya didahulukan !
Dalam menghadapi banyak pilihan tindakan, setiap orang membutuhkan acuan untuk membuat pilihan. Kesalahan memilih urutan dan prioritas dapat menjadi sumber kegagalan seluruh kegiatan. Oleh karena itu perlu adanya panduan yang dapat diacu untuk menentukan urutan prioritas tindakan.  Kebiasaan ini merupakan manifestasi dari tahapan perumusan strategi.

     Jika ketiga kebiasaan tersebut sudah terbangun dan tertanam secara intens pada setiap orang, maka dapat dikatakan kita sudah  menjadi orang yang mandiri atau independen. Tanda-tanda orang mandiri adalah mampu merumuskan visi, misi dan prioritas (pribadi). Pada saat ini kita sudah mencapai tahap ”Kemenangan Diri”.

b.  Perubahan dari Kemandirian Menjadi Kesalingtergantungan
 Kebiasaan 4 :
Berpikirlah menang-menang !
Untuk menjadi orang yang bisa bekerjasama, syarat pertama yang mutlak dimiliki adalah kebiasaan untuk berpikir positif dan menguntungkan kedua belah pihak. Dengan demikian, keinginan untuk sama-sama untung memudahkan pelaksanaan kegiatan selanjutnya. 
 Kebiasaan 5 :
Berusahalah untuk mengerti (orang lain) sebelum dimengerti (oleh orang lain) !
Kebiasaan berempati sangat kurang di antara kita, umumnya orang hanya terlatih untuk bersimpati saja. Karena tidak ada rasa empati maka agak sulit mewujudkan upaya kerjasama. Untuk menjadi orang yang penuh empati, biasanya mendengar banyak terlebih dahulu dari orang lain sebelum orang lain memahami kita.
 Kebiasaan 6 :
Bersinergi !
Untuk menuju ke arah orang yang bisa bekerjasama  dibutuhkan kemauan dan kebiasaan  untuk sinergi, artinya kehendak untuk mau memberi dan menerima, mau menerima kekurangan orang lain sebagai kewajaran.

Jika ketiga kebiasaan tersebut sudah terbangun dan tertanam secara intens pada setiap orang, maka dapat dikatakan kita sudah  menjadi orang yang saling tergantung dan bisa bekerjasama. Tanda-tanda orang yang bisa bekerjasama adalah berpikir positif, tidak egois, memiliki empati tinggi dan mampu bersinergi. Pada saat ini kita sudah mencapai tahap ”Kemenangan Bersama”.

c.  Setelah terbentuknya kesalingtergantungan
 Kebiasaan 7 :
Memelihara kebiasaan positif !
Hal ini didasari oleh asumsi bahwa setiap upaya  perubahan harus memiliki kemampuan untuk berlanjut.

2.    Inovasi
Inovasi merupakan alat khusus kewirausahaan. Inovasi adalah tindakan yang memberi sumber daya kekuatan dan kemampuan baru untuk menciptakan kesejahteraan. Tidak ada sesuatupun yang menjadi sumber daya sampai orang menemukan manfaat dari sesuatu yang terdapat di alam, sehingga memberinya nilai ekonomis. Tanaman dan mineral sebelumnya tidak lebih dari sekedar rumput liar dan batu karang. Setelah tanaman dan mineral dapat diubah menjadi sesuatu sumber daya yang bermanfaat, baru hal tersebut sebagai hasil dari inovasi. Inovasi, di pihak lain, berusaha untuk mencapai teritori yang sebelumnya belum terjamah dan belum ditemukan. Usaha inovasi ini kebanyakan tidaklah efisien. Untuk bisa sukses dalam inovasi, maka dibutuhkan toleransi terhadap kegagalan dan berani mengambil risiko. Inovasi cenderung kepada ”do the right thing”.
Pendapat umum mengatakan bahwa inovasi hanya menyangkut barang yang didasarkan pada ilmu dan teknologi. Orang Jepang bukanlah pembaharu (innovator) melainkan peniru (imitator), karena orang Jepang belum pernah menghasilkan inovasi penting dalam bidang teknik dan ilmu pengetahuan. Keberhasilan mereka berdasarkan pada inovasi sosial. Tujuan Jepang yang sesungguhnya seperti dalam teknik ”yudo” adalah mempergunakan kekuatan senjata ”Barat” untuk menjatuhkan ”Barat” dan tetap menjadi Jepang. Hal tersebut berarti inovasi sosial jauh lebih penting dari pada lokomotif maupun mesin lainnya. Inovasi sosial dalam arti pengembangan berbagai lembaga, pemerintahan, sekolah, bank, dan hubungan perburuhan jauh lebih sulit dari pada membuat lokomotif. 

            Perubahanlah yang senantiasa memberikan peluang untuk sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu unsur pokok inovasi adalah pencarian secara terarah dan terorganisir atas perubahan yang terjadi melalui analisis secara sistematis atas peluang yang ada. Perubahan tersebut mungkin terbuka untuk inovasi ekonomis dan sosial. Sementara itu perusahaan yang mempunyai budaya inovasi akan lebih bersifat entrepreneur, berfokus pada pasar, teknologi, dan model bisnis yang baru. Tujuannya adalah untuk menemukan platform pertumbuhan baru yang dapat menghasilkan pendapatan dan laba yang signifikan.

            Inovasi (”inovasi sistematis” istilah Drucker, 1991) dapat dilakukan dengan memantau melalui tujuh sumber peluang inovasi sebagai berikut.

a.    Sumber : Di Luar Dugaan
Di luar dugaan yang dimaksud adalah di luar skenario/rencana awal.
Contoh; toko yang konsentrasinya menjual pakaian mode, juga menyediakan peralatan rumah tangga sebagai produk sampingan. Di luar dugaan, yang berhasil dalam usaha tersebut bukan ”pakaian mode”, tetapi ”peralatan rumah tangga”, sehingga toko tersebut perlu merencanakan penjualan peralatan rumah tangga lebih baik.
b.    Sumber : Ketidakserasian
Ketidakserasian bisa terjadi jika terdapat perbedaan antara harapan dan realita.
Contoh; pabrik penggilingan gabah yang menetap dirasa merugikan bagi petani kecil, karena petani membutuhkan biaya transpor untuk ke pabrik. Penggilingan padi keliling dan menjemput bola ke rumah-rumah petani merupakan inovasi untuk menangkap peluang dengan biaya lebih murah.
c.    Sumber : Kebutuhan Proses
Kebutuhan proses dapat diartikan sebagai penyempurnaan proses yang telah ada, mengganti mata rantai yang hilang atau merancang ulang proses yang lama/sudah ada dengan pengetahuan baru.
Contoh; penggunaan robot untuk mengganti tenaga manusia yang melakukan proses kegiatan yang penuh resiko. Foto digital lebih menarik dari pada foto pakai kertas.
d.   Sumber : Struktur Industri dan Pasar
Contoh; Jepang pernah jaya menjual mobil di AS, karena mempertimbangkan kualitas dan irit bahan bakar sesuai harapan konsumen.
e.    Sumber : Demografi
Contoh; banyaknya wanita yang berpendidikan tinggi dan ingin meniti karier, akhirnya banyak dimanfaatkan oleh Citybank di AS.
f.     Sumber : Perubahan dalam Persepsi
Contoh; keberhasilan pendidikan menyebabkan banyak orang berperilaku rasional (peluang), sehingga perusahaan yang menjual produk dengan menekankan kesehatan banyak berhasil.
g.    Sumber : Pengetahuan Baru
Contoh; penggunaan robot sebagai pengganti tenaga kerja manusia di pabrik mobil, merupakan pemanfaatan pengetahuan baru (peluang) supaya industri pabrik lebih efisien.

            Untuk berhasil dalam melakukan inovasi diperlukan suatu prinsip. Prinsip inovasi terdapat beberapa macam dan tergolong menjadi empat kategori, sebagai berikut.

a.    Hal yang Menjadi Keharusan
1)      Inovasi yang mempunyai tujuan dan sistematis.
Teknis yang dilakukan dimulai dengan menganalisis peluang.
2)      Inovasi bersifat konseptual dan perseptual.
Cara yang dilakukan adalah analisis untuk memenuhi kebutuhan peluang.
3)      Inovasi harus sederhana dan difokuskan, supaya efektif.
4)      Inovasi yang efektif harus dimulai dari kecil
5)      Inovasi yang berhasil harus mengarah pada kepemimpinan

b.   Hal yang Menjadi Larangan
1)      Jangan berlagak pintar
2)      Jangan mencoba terlalu banyak pekerjaan sekaligus
3)      Jangan mencoba melakukan inovasi masa depan, tetapi untuk masa sekarang.

c.    Tiga Persyaratan
1)      Inovasi adalah karya atau hasil kerja keras yang terarah dan mempunyai tujuan yang memerlukan ketekunan dan keuletan.
2)      Agar berhasil, inovator harus membina kekuatannya. Artinya inovasi disesuaikan dengan kompetensinya, sehingga dengan kekuatan dan kelebihannya inovasi dapat direalisasi.
3)      Inovasi adalah dampak dari perekonomian dan masyarakat. Oleh karena itu, inovasi mempunyai peluang untuk berhasil jika menyesuaikan dengan perubahan di masyarakat, konsumen atau pasar.

d.   Inovator yang Konservatif
Artinya inovator yang berhasil adalah konservatif, mereka tidak ”berfokus pada resiko”, mereka ”berfokus pada peluang”. Sudah barang tentu dengan memenuhi peluang yang ada, selanjutnya manajemen resiko juga dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar